Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Nikmatnya Ad Da’wah’ Category

Tips2 ini bukan bermaksud menggurui atau menunjukkan betapa hebatnya saya dalam menghafal al Qur’an (sehingga saya sok-sokan ngasih tips, astaghfirullah). Ini kumpulan tips dari ustadz/ah yang sudah menjadi penghafal al Qur’an. Antum juga bisa banyak referensi lain yang lebih kredibel misalnya buku Abdul Aziz Abdur Rouf atau Ir Amjad Qasim. Manapun itu. semoga bisa menjadi pecut –terutama sekali untuk saya-, supaya bisa menjadi bidadara/ bidadari surga bersama para malaikat Allah kelak. Allohu a’lam bish showwab.

  1. Pertama2, ambil wudhu sebelum mulai, berdoalah agar diberi kemudahan oleh Allah. Kembali luruskan niat dan ingat2 lagi fadhilah menghafal al Qur’an. Bagi yang belum lancer baca Qur’an, sebaiknya ambil program tahsin guna memperbaiki bacaan.
  2. Bacalah ayat yang hendak dihafal dan pahami maksud bacaannya, misalnya dengan membaca terjemahan atau tafsir Ibnu Katsir. (Oh ya, mushafnya pakai mushaf andalan saja, kalau ganti2 biasanya lebih sulit) Baca ayatnya berulang-ulang, misalnya ayat pertama 30 kali, begitu juga ayat selanjutnya. Abu Ishaq mengulang bacaan 70 kali dan al Hasan bin Abu Bakar An Nisaburi mengulang 50 kali sebelum menghafal. Ingat, jangan tambah hafalan sebelum hafalan sebelumnya bagus dan diperdengarkan kepada ustadz/ah.
  3. Upayakan sehari-hari menggunakan bahasa al Qur’an, misalnya ketika dilemma mau beli baju baru, bilang “Walihattaqwa dzalika khair” atau kalau mau bangunin adik atau teman satu asrama, “Ya ayyuhal mudatstsir!” Hehe..
  4. Bergaul dengan penghafal al Qur’an yang lain. Syukur2 kalau hafalan mereka lebih banyak, alamat bisa iri hati mencapai titik didih dan kita akan termotivasi. Bagusnya lagi, motivasi tersebut dipasang besar2 di tembok rumah atau buat reward and punishment, misalnya baru boleh main Facebook setelah hafal dua halaman.
  5. Mengambil sedikit dari dunia. Sedikit makan, makannya pun yang halalan thoyyiban. Jangan banyak MSG dan lain2. Sedikit tidur, perbanyak muraja’ah dalam sholat dan pengisi waktu luang.
  6. Standar hafalan? Setiap hari 2 halaman, lakukan setelah subuh dan setelah ashar. Jangan lupa untuk setorkan hafalanmu supaya ngga hilang.
  7. Berdoa dan jauhi maksiat. Banyak2 sedekah. Kalahkan hawa nafsu dan mulailah selalu bermujahadah bahwa investasi al Qur’an tidak akan merugi. Belum pernah kan mendengar guru or penghafal al Qur’an hidupnya susah dunia?

Mudahnya Menghafal al Qur'an

Advertisements

Read Full Post »

Alhamdulillah, sore ini sudah sampai baiti-jannati dengan nyaman. Rumah orangtua ding, hehe. Tadi pagi ada kajian dalam rangka orientasi santri baru di Utsmani. Dikirain saya datang telat, alhamdulillah tadi dapat shaf pertama, jadi kesempatan konsentrasinya lebih besar.

Pengisi kajian kali ini namanya Syaikh Fahd Shofy dari Yaman bareng Ustadz Effendi Anwar. Temanya “Bersungguh2 dlm Menuntut Ilmu”. Hmm mungkin sih sudah umum, bahkan berkali2 sering kita bawakan di halaqoh. Namun, memang ilmu harus diberikan ruh, supaya nggak hanya numpang lewat. So, menurut saya, kajian kali ini bakal luar biasa nih..

Ternyata saya ngga salah. Saya share sedikit ya,

Syaikh bilang (dlm bahasa Arab, tentunya) pertama2 yang harus kita perhatikan adalah tanda syukur kita kepada Allah sebelum kita memahami urgensi ilmu dan bagaimana menuntut ilmu. Setelahnya, kita akan memahami pentingnya menuntut ilmu seperti kita memahami pentingnya makanan bagi tubuh kita.

Keutamaan ilmu diantaranya kedudukan ilmu jauh lebih besar dari berdzikir. Ilmu itu mencakup dzikir dll. Pun, ilmu bisa memberikan manfaat bagi semua orang di sekelilingnya. Ilmu juga lebih afdhol daripada ibadah. Bukankah memang ibadah tidak akan sah dan sempurna tanpa ilmu? Jangan lupa, Nabi Muhammad SAW deperintahkan “Iqro’!'” kala turunnya wahyu pertama. Ilmu juga mampu mengangkat dan meninggikan para ulama (yang berilmu) di dunia, juga meninggikan di akhirat. Dengan ilmu pun, seorang manusia mampu mengenal dan takut pada Allah SWT. Subhanalloh..

Sedangkan tujuan ilmu itu bukanlah ilmu itu sendiri. Ilmu bukan untuk dipelajari (saja). Ilmu itu untuk diamalkan. Orang yang paling takut pada Allah, pastinya orang yang berilmu. Orang pun dipisahkan derajatnya berdasarkan ilmu.

Syaikh pun teringat perkataan ulama, air itu ada 3 macam: Air yang suci namun tidak bisa mensucikan, Air suci yang mensucikan, dan Air yang tidak suci serta tidak bisa mensucikan. Perumpamaannya sama dengan manusia. Apakah kita bisa memenuhi tuntutan Islam seperti pilihan yang kedua, yang menginginkan setiap pejuangnya menjadi orang yang shalih, pembelajar dan mampu mengajarkan??

Hmm, makin kepikiran target2 belajar yang tidak semakin berkurang di tiap tahunnya. Tapi makin bertambah bak belum terselesaikan, padahal memang seyogyanya setiap hari target harus terus bertambah. Ya kan? Jadi, semangat dan bersungguh2! Allohu akbar!

Read Full Post »

Ishlah?

Jamaah ini harus mampu merangkul segala hasrat kaum Muslimin, mencakup masalah salafiyah, shufiyah, fiqih, politik, perang, harta, apapun, dalam nisbah tertentu. Mengapa? Karena itulah yang dibutuhkan umat Islam dewasa ini. Oleh karenanya, segala hal yang membawa kebaikan pada Islam, telah terhimpun dalam jamaah.

Bukankah ahli fiqih yang apabila tidak melihat kaedah fiqih dalam jamaah, maka ia akan memandang rendah pada jamaah?

Itulah, mengapa sifat menyeluruh (syumul) memang harus kita dalami ketika mencari ilmu. Ikhwah, be right on the right track. Jangan hiraukan segala iri hati, fitnah dan tipu muslihat, toh dari jaman Nabi Adam hal tersebut sudah lumrah.

Jadi, revolusi jamaah? Hmm, mulai yuk dari diri sendiri. Bismillah.

-Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Sa’id Hawwa, jazakumulloh.

Read Full Post »

Entah sudah berapa kali sahabat saya memanaskan telinga ini dengan hujatan2 pedasnya. Saya pun tidak bermaksud mencari pembelaan atas diri saya dan membuat seakan2 saya butuh ‘suaka’.

Semua berawal dari statement beliau yang mengatakan saya termasuk penganut Syirkul Akbar. Nau’dzubillahi min dzalik. Saya yang cuma simpatisan salah satu parpol ini dibilang musyrik. Keluar dari Islam. Masya Allah. Saya cuma bisa berdoa dan memohon ampunan Allah jika sekiranya tingkah saya maupun teman2 lain sudah menyinggungnya begitu dalam.

Dan intimidasi itupun berlanjut setelah tadi pagi, ia mengirim short message yang menyebut2 kami adalah kaum munafik karena tidak mau mengusung syari’at Islam.

Sudah syirik, masa munafik?

Ah, saya tidak mau berpolemik-ria dan menghabiskan stok kata2 baik serta etika untuk beretoris dengannya. Hanya saya ingin share, bahwa tidaklah benar jika ada penolakan syari’at Islam. Namun sekali lagi, mohon koreksi saya, khilafah Islamiyah bisa terbentuk jika banyak negara2 Islam mempunyai kesamaan visi global untuk menjalankan world order based by Islam. Sekali lagi, bukannya tidak mau bernegara Islam, bukan. Menurut saya, syarat terpenuhinya negara Islam adalah pertama harus dibibit dari individu islami. Individu muslim tadi akan membentuk rumah dan keluarga islami. Kemudian, bangsa muslim. Setelah bangsa muslim terbentuk, maka harus lahir pemerintahan Islam. Dari pemerintahan2 Islam tadi maka akan terbentuk kepemimpinan Islam tingkat dunia yang mengatur dan mengurus negara-negara Islam, menghimpun umat Islam, berjuang mengembalikan kejayaan Islam, mengembalikan tanah-tanah kaum Muslim yang telah dirampas dan negara-negara mereka yang direbut secara paksa. Kemudian mengibarkan bendera jihad dan panji dakwah Islam sehingga dunia merasakan kebahagiaan dengan ajaran-ajaran Islam. (eramuslim). Jadi, tidak bisa top-down system…

Namun, Indonesia?? Memang, mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, meski setiap dasawarsa mengalami penurunan jumlah yang signifikan, namun hey berapa sih yang memang bangga dan menjalani syari’at Islam yang benar? Lha wong persepsi Islam di setiap kita berbeda. Banyak hal kecil yang dibesar2kan. Banyak hal besar yang terlalu dibuat semakin besar. Contohnya, fatwa merokok versi Islam. Kaedah hijab dan cadar pun masih banyak yang ngga (dan sok) mengerti.

Berangkat dari situ, setahu saya, IM yang baru saya habiskan buku2nya, hadir sebagai suatu manhaj yang menekankan bahwa dakwah harus dilakukan di segala lini. Dengan cara yang baik. Dalam kasus ini, tidak ada yang bohong-membohongi, saling tipu, apalagi munafik. Na’udzubillah.. Hanya dengan hikmah wal mau-izhoh hasanah. Termasuk soal dukungan terhadap capres,

[NB: Check this taujih: “Dinul Islam tidak semata-mata diturunkan melainkan untuk kemaslahatan semesta. Apabila kemaslahatan untuk semua orang tidak dapat dicapai, maka perintah syara’ adalah agar mengupayakan kemaslahatan yang lebih besar. Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.”]

Jika memang peranan itu harus dilakukan, maka bismillah.

Sahabat, ketika banyak yang tidak begitu kita mengerti, bertanyalah. Jangan2, kredibilitas keilmuan dan keikhlasan kita yang kurang? Entahlah. Allohu a’lam.

Read Full Post »

Doa ini dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.  

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Read Full Post »

Merendahlah,

engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya rendah-hina

 

(Rahmat Abdullah)

Read Full Post »

Ketika kita bertemu kata “rutinitas”, apa yang kemudian timbul dalam pikiran kita? Sebuah aktivitas Mon to Fri, Seven to Three alias ngantoran? Setumpukan file dan tugas anak-anak yang belum dikoreksi, wahai guru? Pekerjaan rumah: Masak, nyuci, nyapu, ngepel, nyetrika, nyapu lagi? Seuntaian kalimat jawaban yang agaknya jauh maknanya dari kenikmatan. Padahal, ingatkah kita bahwa setiap hal bisa membawa pahala, setiap peluh yang dikeluarkan Ayah dalam mencari nafkah bagi buah hati, setiap debu yang dibersihkan Ibu di sudut-sudut rumah, setiap lembar yang terbaca dan terpahami oleh seorang murid bisa menjadi ladang pahala, rutinitas apapun itu.

Dalam Islam, sebaik-baik amal adalah amalan yang sedikit namun dilakukan terus-menerus. Intinya, Allah tidak menekankan amalan yang dilakukan asal jebret saja kemudian besoknya langsung kendor, futur. Justru yang diajarkan adalah bagaimana umat bisa merutinkan sesuatu yang baik, meski tidak banyak. Infaq Rp. 1000 per hari, misalnya. Atau hafalan 1 hari 1 hadits. Atau menyambung tali silaturahmi harian, mulai dari tetangga, teman-teman jaman balita, atau apapun. Namun, amalan-amalan tadi ternyata nggak cukup, lho. Ada prosedur pra-amal dan pasca-amal (Semoga bukan karena ikut-ikutan istilah pemilu, hehe).

Pertama yang harus dijadikan landasan dalam beramal adalah An Niyat wal Ikhlas. Hei, ingatkah kita bahwa amalan sedikit bisa jadi beussaaar karena niatnya benar dan amalan besar bisa jadi kecil karena niatnya nggak benar. Wah, alamat mesti waspada. Kalau kata ustadz Iman Santoso, makanya kalau melakukan amal baik, hendaknya perbanyak niat. Pintar-pintarnya kita deh, bagaimana caranya supaya yang namanya tidur bisa berpahala, ketika ngeliat orang bisa berpahala, ketika jongkok, salto, roll depan roll belakang, sikap kayang, posisi gimanapun kita, ya dapat pahala.

Kedua, ketika beramal kudu didukung cita-cita tinggi. Asalkan, cita-cita tadi nggak ngoyo ya, misalnya pengen punya pulau pribadi, padahal infaq aja sulit (pelit, maksudnya..) Ujung-ujungnya ya mungkin cuma bisa bikin pulau pribadi di atas kasur alias sampai ngiler kebawa mimpi, hehe. Cita-cita tinggi bisa dijadikan motivasi kita disaat lemah letih lunglai lemas tak berdaya. Kalau masih saja lelah meski tuh impian udah kita tulis gede-gede di karton oranye dan ditempel di tembok kamar? Well, kemarin siang, saya dapat tausiyah dari sahabat: “Jika anti lelah dan penat berlarian di jalan dakwah yang terjal dan berliku, istirahatlah sejenak. Lihatlah ke langit, Allah sedang melukiskan pelangi untukmu.” Subhanallah, tapi ingat ya, istirahat sejenak, bukan keluar main –istilah anak SD-. Nanti bisa salah kaprah.

Hal lainnya yang saya tahu adalah mengenai mujahadah, kesungguhan. Namanya Islam nggak bakal tersiar kalau nggak dari kegigihan salafus shalih. Namanya Thomas Alva Edison nggak bakal cuma sekali percobaan langsung berhasil nginven bola lampu. Makanya, mujahadah itu mutlak banget, selain kedua faktor di atas.

Bagaimana tentang kesungguhan dalam dakwah? Seseorang yang bisa dikatakan mujahid dakwah semestinya mampu mencapai nilai terbaik dalam minimal 3K yakni Kehadiran, Komitmen dan Kontribusi dalam dakwah dan tarbiyah. Kebanyakan manusia –termasuk saya- terkadang lebih mengerti urusan dunia sehingga urusan akhiratnya terlalaikan. Padahal, setiap manusia, mana ada sih yang mau jadi orang kalah?

Tapi, kalau soal kekalahan partai dakwah di pentas baru-baru ini, bagaimana? Saya percaya, dibalik kekalahan ada kesalahan. Keterlenaan terhadap lingkungan yang sudah mulai berubah, terlalu banyak hal yang kontraproduktif, banyaknya kader yang bunglon, pindah ke harakah lain karena tuntutan hawa nafsu, apapun. Kekalahan itu wajar dalam hal ini, pasti bakal ada. Yang salah bukan sistem, tapi oknum. Dan saya memohon ampunan pada Allah, jika saya mungkin menanam saham kesalahan tersebut.

Ah, perjalanan dakwah ini memang harus dievaluasi. HARUS. Tapi perjalanan dakwah ini juga HARUS TERUS berjalan. Tidak bisa berhenti, pending, jeda. Ajang pemilu kemarin toh hanya satu momentum diantara banyak momentum dakwah. Sekarang, tidaklah perlu kita mundur atau putus asa, apalagi putus liqo’. Tetap lakukan amalan, bahkan tingkatkan keilmuan dan amalan. Kembali lagi ke teori rutinitas. Biar sedikit, tapi nggak putus-putus. Ok.

Read Full Post »