Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Cintanya An Nisaa’ Category

Ya Allah, Ya Rabbku…
Jika cinta adalah ketertawanan
tawanlah aku dengan cinta kepada-Mu
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku

Ya Allah, Ya Rabbku….
Jika rindu adalah rasa sakit
yang tak menemukan muaranya
penuhilah rasa sakitku
dengan rindu kepada-Mu
dan jadikanlah kematianku sebagai muara
pertemuan dengan-Mu

Ya Allah….
hatiku hanya cukup untuk satu cinta
jika aku tak dapat mengisinya dengan cinta kepada-Mu
kemanakah wajahku hendak kusembunyikan dari-Mu?

Mohammad Fauzil Adhim, 1415 H

Read Full Post »

Saya mengenal seorang akhwat yang luar biasa semangat dan kemampuannya. Kita sebut saja akhwat A. Pagi hari mengajar di Kramat Jati, siang hari meluncur ke majelis ta’lim di Rawamangun, sore hari ada pertemuan di Serpong, ditutup dengan syuro malam di Pasar Minggu. Rutinitasnya tidak jauh beda di keesokan harinya, yakni ngider seperti Trans Jakarta.

            Atau ada juga akhwat yang kesibukannya bak mengalahkan capres kita yang makin tebar pesona. Selain mengajar, mengasuh TPA dan majelis ta’lim, dagangannya luar biasa komplit. Kita bisa nyari pastel, risol dan kawan-kawan, hingga baju renang muslim yang harganya paling murah 200 ribuan itu. Mulai dari bros imut yang dibuat sendiri, jasa tata rias pengantin dan salon kecantikan, hingga agen pembantu rumah tangga. Dahsyat tenan!

            Akhwat satu lagi, si C juga tak kalah sibuk. Mahasiswi perguruan ternama di negeri ini. Aktivis dakwah kampus yang tenarnya menyaingi sang rektor. Setiap aksi, setiap demonstrasi, setiap kerja bakti selalu ada di garis depan. Meskipun datang dari keluarga yang bisa-dibilang-sederhana, entah kenapa selalu ada jalan menuju Roma, alias selalu giat membidani bidang fundraising –bahkan pendanaan swadaya- untuk lembaga-lembaga yang ia geluti.

            Subhanallah. Apa ihwal yang membuat hamasah mereka sebegitu menggelora? Entah mengapa, ketiga akhwat saudari saya tersebut mempunyai satu kesamaan: sangat aktif (dan agresif) di bidang mereka terutama dakwah masyarakat.

            Akhwat A, B dan C adalah sosok-sosok yang (menurut saya) sudah laik dan terbukti kemampuannya. Bahkan kabarnya, akhwat A itu adalah calon pengemban struktural di wilayah rumahnya. Bayangkan, dalam usia yang relatif muda, sudah (bakal) dapat amanah yang luar biasa berat. Atau akhwat B tadi yang ternyata memiliki kans untuk mengkoordinir unit usaha mandiri milik ibu-ibu PKK di tingkat Kotamadya. Satu lagi, akhwat C yang begitu dicari salah satu LSM ikhwah karena kemampuan lobbying dan manajerialnya yang cukup baik.

            Manusia pada hakikatnya mempunyai fitrah untuk memimpikan selalu mencapai kebaikan dan perbaikan. Mempunyai fitrah untuk dapat memiliki mimpi tentang kenikmatan. Dunia dan akhirat. Jabatan yang bagus, kekayaan yang cukup, keluarga yang harmonis. Tolak ukur tersebut, memang alamiah hadir di tengah-tengah benak kita. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya kelihaian kita dalam mengatur prioritaslah yang perlu dievaluasi setiap saat. Kelihaian menentukan yang mana prioritas yang mana yang dapat dibelakangkan, seakan tidak cukup sebelum kita memaknai alasan mengapa kita berhasil membuat skala prioritas tersebut.

            Mengemban jabatan struktural, menjadi ketua lembaga atau orang penting di salah satu badan, kadang menjadi pesona yang tidak terelakkan. Pesona akhirat maksudnya. Sudah terbayang di depan mata, akhwat-akhwat tadi yang jiddiyahnya sudah terbangun, dapat mendorong semangat ikhwah lain yang mulai bercucuran keringat dan air mata di persimpangan jalan. Namun, apa nyana, mereka pun hingga saat ini ternyata belum cukup diyakini untuk ada di amanah tersebut.

            Apa alasannya? Allohu a’lam. Namun, teman-teman sempat berkelakar (atau serius?) menyatakan bahwa akhwat (akhwat) tadi begitu berkualitas namun ada satu hal yang belum terpenuhi. Menikah.

            Menikah. Sebuah kata yang begitu dalam artinya, begitu panjang ungkapannya, begitu banyak waktu dibutuhkan untuk membahasnya. Beberapa ummahat pernah berkata bahwa, semilitan apapun seorang akhwat, belum teruji hingga ia menikah. Benarkah?

            Pertama kali mendengar ini saya cukup apresiatif. Yah, saya bisa memaklumi ketika seorang akhwat sudah menikah (bahkan apabila sudah memiliki anak) maka ia harus pintar membagi waktu dan perhatiannya antara ladang dakwah dan keluarga. Itu artinya, waktu-waktu yang sebelumnya dialokasikan untuk kegiatan kemasyarakatan, harus ada yang ‘hilang’ digantikan untuk keluarganya. Walaupun terkadang, ada rasa tidak rela bagi akhwat. Namun, itulah makna ketika berada di mahligai pernikahan sesungguhnya.

            Faktor lain yang bisa saya maklumi adalah faktor lebih mudahnya fitnah itu timbul. Setiap gerak badannya, lirik matanya, langkah kakinya dapat mengundang perhatian orang lain. Siapapun. Karena itu, katanya dalam mencari asisten pribadi –misalnya, dan itupun jika terpaksa harus akhwat- maka lebih ‘aman’ carinya yang sudah menikah saja.

            Namun, jangan salah, menjadi single itu tidak berarti militansinya tidak cukup teruji. Saya punya kenalan yang pernah di-sms oleh seorang ummahat yang marah-marah karena ia dituduh main mata dengan suaminya. Padahal, saat itu yang terjadi adalah sang suami itu jadi sie dokumentasi dan akhwat tadi jadi moderator dalam ta’lim yang harus difoto. Atau kisah seorang akhwat yang dalam tugas penelitian harus berinteraksi dengan bos laborat yang seorang ikhwan dengan 5 orang anak, dan setelah penelitian harus dihadapkan pada isu tidak enak mengenai ‘perpisahan’ ikhwan tadi dengan istrinya dikarenakan ada orang ketiga.

           Kedua akhwat tadi hanya bisa mengelus dada. Lagi-lagi, mereka pun hanya manusia biasa yang kadang timbul bersitan negatif di hati. Setelah pemakluman, akhirnya mereka kemudian mengklarifikasi dan bermunajat kepada Allah agar Allah mengampuni kesalahannya yang menimbulkan su’uzhon di hati-hati setiap insan yang memandang mereka.

Allahuakbar. Sebenarnya, saya lebih sepakat dengan keyakinan bahwa setiap orang memiliki cobaannya sendiri-sendiri. Dalam kondisi begini maupun begitu, ada ganjaran pahala dari Allah jika setiap musibah dan hambatan dilewati dengan ikhtiar dan keikhlasan. Bagi para akhwat yang masih sendiri, subhanallah, betapa kesempatan tabungan amalmu tak kalah banyak dibanding mereka yang berbakti pada keluarga dan suaminya. Jangan lantas bersedih dengan tekanan yang stereotip. Mari kembali jatuh cinta dengan ladang ini, kembali mentafakuri setiap kelegaan yang diberikan, meski guncangan ‘kecil’ selalu datang bertubi-tubi. Inilah nikmatnya menjadi seorang muslim, cintanya Allah selalu menguji kita untuk kemudian diketahui jawabannya, apakah kita memang layak mendapat cintaNya yang begitu besar. Ataukah kita justru mudah kecewa dengan perlakuan dan perkataan partner dakwah kita? Kemudian mudah terhempas dan terkoyak seperti daun kering di jalan aspal?

Semoga inipun menjadi catatan saya. Allohu a’lam bish showwab.

Read Full Post »

Masa Muda

Tebak, saya yang mana ya? Hmmm..

Read Full Post »

Terima kasih,

Karena sudah menanam bibit hikmah di hati yang terdalam. Menjadi cercahan sinar yang mampu membangunkan saya dari lelap. Menghentakkan nada dalam sunyi. Patokan untuk berjalan kembali. Menggenapi seluruh kekurangan yang sekian lama menjadi-jadi. Menularkan semangat yang hingga kini makin berapi.

Sahabat, dengan segala kelebihan yang membantu, kekurangan yang semakin menguatkan kita, terima kasih, syukur alhamdulillah. Ana uhibbukum fillah, lillah. Kita dibesarkan dalam jamaah ini, jika kita bisa turut ambil bagian dalam kebaikan dan pahalaNYA, mengapa kita harus berdiam atau menghindar?

Semoga, kita semua dikumpulkan dalam ridhoNYA.

Read Full Post »

Sore itu saya mampir ke kontrakan teman akhwat saya. Sahabat saya, tepatnya. Saya mau nostalgia, membuka lagi silaturahmi yang sempat menampakkan wajah kelabu. Benar dugaan saya, nuansa yang hadir tetap seperti yang dulu. Hangat. Penuh tawa. Sesekali mengungkit kenaifan masa kecil. Meski kini kami berdua sudah dipisahkan kesibukan dan amanah lain, meskipun jarang, pertemuan ini rela saya bayar mahal. Kata dia, saya banyak berubah. Sudah susah dihubungi. Jarang balas sms. Kata saya, dia banyak berubah. Terlalu sering sms. Bahkan, ketika kami larut membahas apapun –mulai dari jumlah kader muda, sahabat kami yang lain yang sudah di negeri rantau, pemilu, dan lainnya- ia juga larut dalam berpesan pendek dengan seseorang, menggunakan CDMA nya yang baru itu. Mungkin salah satu kelebihan kami –akhwat- yang Allah berikan adalah kemampuan multi tasking. Banyak perempuan yang mampu menyetir mobil sambil nelpon pakai handsfree dan bedak-an. Ibu saya, mampu memasak, menelpon temannya, sambil menonton TV. Hebat.

Tapi bagi saya, melihat sahabat saya ber-multi tasking ketika ngobrol adalah hal baru. Mengingat juga, dia bukanlah tipikal seperti itu. Saya pun meminjam HP nya karena takdir Allah saat itu pulsa saya habis. Saya hendak nelpon adik kelas saya. “Ya tergantung, kalau memang dia mau datang, tafadholy” (Sender: SayangQu 0817xxxxxx) Dag dig dug. Kepala saya pusing. Saya seperti kena vertigo. Tapi penyebabnya kali ini adalah karena saya tidak sengaja membuka sms dari seseorang di HP sahabat saya. Mungkin ini rasanya ketika sebisa mungkin kita tidak mengambil apa yang bukan hak dan wewenang kita, namun ternyata kita terpaksa untuk melakukannya. Ah, bukan. Bukan hanya karena itu. Karena isi sms-nya? Bukan, sms-nya biasa saja. Lantas apa? Nama pengirimnya. Berprasangka burukkah saya? Di tengah sesaknya otak saya terasa, saya pun langsung berpikir cepat dan bertanya-tanya.

Bukankah, phonebook itu prerogatif kita sebagai si empunya untuk menamakan siapapun yang kita mau dengan apapun yang kita suka? Bukankah, terkadang kita punya panggilan tertentu terhadap orang-orang di lingkungan kita? Bukankah, saya pun menamakan Neng Ica untuk adik saya, Tikus Kakus untuk teman saya yang zuperr ngasal, atau Yobi Nduti –teman saya yang dianugerahi oleh Allah dengan 80 kg nya? Tapi yang saya lihat di HP teman saya: SayangQu.

Dengan HP nya yang masih di tangan saya, saya melirik ke sahabat saya. Ia terbaring di pojok ruangan. Tatapan matanya masih hangat, seperti dulu. Senyumnya masih manis, polos dan begitu ramah. Sambil tertawa, ia pun masih sesekali melempar candaan ke saya. Masa demikian sih? Saya ingin sekali membuka bahasan ini dengan sahabat saya. Betapa kita masih punya setumpuk masalah, segudang problematika. Dalam dakwah, sudah tak terkira PR yang masih menunggu untuk diselesaikan. Hafalan Qur’an dan Hadits yang belum dilunaskan. Kenapa masih ada (lagi) masalah hati dan perasaan yang tak semestinya, hadir di tengah-tengah kita? Bukankah kamu yang dulu menampar saya dengan sekarung nasihat atas kecenderungan saya yang seperti itu? Kenapa di saat harapan perjuangan mulai bersinar lagi, saya melihatnya pudar di ufuk sana? Saya ingin sekali membuka bahasan ini dengan sahabat saya. Berjuta pertanyaan melanda tentang bagaimana bisa demikian. Saya tahu sahabat, kamu akan menjawab tentang hakikatmu yang adalah manusia biasa, mudah tergoda. Tapi kenapa lagi? Bukankah dulu kita yang mendobrak pandangan bahwa kemajuan pemahaman harus sebanding dengan percepatan perbuatan? Bukankah Allah membenci kefasikan? Atau kemunafikan yang selalu terulang?

Saya ingin sekali membuka bahasan ini dengan sahabat saya. Cukuplah kita gadaikan diri dengan penyerahan jiwa kepada hawa nafsu seperti ini. Cukuplah sudah dosa-dosa karena perasaan salah yang tersalurkan. Bukankah kita sering lihat bahwa banyak saudara-saudara kita yang bertumbangan di jalan dakwah hanya karena tidak mampu menjaga hati? Terbuai dengan kesenangan yang utopis, kerinduan yang sesat dan kedekatan yang mencoreng harkat bagi seluruh aktivis lainnya di mata ammah?

Saya ingin sekali membuka bahasan ini dengan sahabat saya. Bukan untuk menggurui, bukan. Karena sejatinya, tanpa disadari saya pun banyak menikung dalam hidup. Tapi, karena saya tahu, saudara punya andil untuk saling mengingatkan. Untuk saling melengkapi, meskipun yang melengkapi juga tidak kalah usang. Tapi, dengan bersama, kita akan kuat melihat pelangi yang turun setelah badai. Kita akan mampu melihat, tidak dengan mata, tetapi dengan hati nurani. Untuk melihat jauh ke depan, mengambil pelajaran dari belakang.

Saya hanya mampu memandang wajah sahabat saya. Dengan jilbab biru mudanya yang cantik. Ah, sholihah, betapa saya menyayangimu karena Allah. Betapa saya dan teman-teman kita lainnya masih membutuhkan kamu dengan semangat juangmu yang mampu menularkan haru di relung tiap kita. Sahabat, jangan ke arah sana. Kita bisa melampauinya bersama. Asalkan, kamu percaya. Pada Ar-Rahman, yang senantiasa melihat dan mengerti setiap desah dan gelisah yang berkecamuk, setiap tetes air mata dalam dada yang mudah tumpah, setiap lafal dzikir yang terucap meskipun samar. Asalkan kita yakin, Ia menguji kita dengan ini, dengan hal yang pasti mudah kita lalui. Untuk kita naik ke derajat yang lebih tinggi, sebagai pejuang. Pejuang hati. Pejuang Islam. Pejuang yang dapat dipanuti.

Kelak, saya akan menunggu saat yang tepat untuk bilang semuanya. Saya akan disini, mendampingimu hingga kamu sembuh. Hingga kamu tidak lagi terbaring karena tekanan fisik. Saya tidak akan membiarkanmu terbaring juga karena tekanan perasaan yang haram. Maka, izinkan saya menghapus inbox-mu, mengganti namanya di phonebook-mu dan menegaskan kepada ikhwan itu untuk menjauh pergi dari kehidupanmu. Dan kehidupan akhwat lainnya. Nanti, kita akan belajar ber-multi tasking: Berdakwah, berukhuwah, bermuhasabah dan tersenyum penuh harapan untuk bangkit.

Akhirnya, seperti biasanya, setiap pertemuan denganmu, dengan sahabat-sahabatku, akan selalu melahirkan hikmah yang begitu sarat makna. Insya Allah, untuk perbaikan. Diri dan sekitarnya. -Mungkin kamu sedang membaca tulisan ini.. Jadilah bintang yang menerangi perjalanan.

Read Full Post »