Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2009

Saya mengenal seorang akhwat yang luar biasa semangat dan kemampuannya. Kita sebut saja akhwat A. Pagi hari mengajar di Kramat Jati, siang hari meluncur ke majelis ta’lim di Rawamangun, sore hari ada pertemuan di Serpong, ditutup dengan syuro malam di Pasar Minggu. Rutinitasnya tidak jauh beda di keesokan harinya, yakni ngider seperti Trans Jakarta.

            Atau ada juga akhwat yang kesibukannya bak mengalahkan capres kita yang makin tebar pesona. Selain mengajar, mengasuh TPA dan majelis ta’lim, dagangannya luar biasa komplit. Kita bisa nyari pastel, risol dan kawan-kawan, hingga baju renang muslim yang harganya paling murah 200 ribuan itu. Mulai dari bros imut yang dibuat sendiri, jasa tata rias pengantin dan salon kecantikan, hingga agen pembantu rumah tangga. Dahsyat tenan!

            Akhwat satu lagi, si C juga tak kalah sibuk. Mahasiswi perguruan ternama di negeri ini. Aktivis dakwah kampus yang tenarnya menyaingi sang rektor. Setiap aksi, setiap demonstrasi, setiap kerja bakti selalu ada di garis depan. Meskipun datang dari keluarga yang bisa-dibilang-sederhana, entah kenapa selalu ada jalan menuju Roma, alias selalu giat membidani bidang fundraising –bahkan pendanaan swadaya- untuk lembaga-lembaga yang ia geluti.

            Subhanallah. Apa ihwal yang membuat hamasah mereka sebegitu menggelora? Entah mengapa, ketiga akhwat saudari saya tersebut mempunyai satu kesamaan: sangat aktif (dan agresif) di bidang mereka terutama dakwah masyarakat.

            Akhwat A, B dan C adalah sosok-sosok yang (menurut saya) sudah laik dan terbukti kemampuannya. Bahkan kabarnya, akhwat A itu adalah calon pengemban struktural di wilayah rumahnya. Bayangkan, dalam usia yang relatif muda, sudah (bakal) dapat amanah yang luar biasa berat. Atau akhwat B tadi yang ternyata memiliki kans untuk mengkoordinir unit usaha mandiri milik ibu-ibu PKK di tingkat Kotamadya. Satu lagi, akhwat C yang begitu dicari salah satu LSM ikhwah karena kemampuan lobbying dan manajerialnya yang cukup baik.

            Manusia pada hakikatnya mempunyai fitrah untuk memimpikan selalu mencapai kebaikan dan perbaikan. Mempunyai fitrah untuk dapat memiliki mimpi tentang kenikmatan. Dunia dan akhirat. Jabatan yang bagus, kekayaan yang cukup, keluarga yang harmonis. Tolak ukur tersebut, memang alamiah hadir di tengah-tengah benak kita. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya kelihaian kita dalam mengatur prioritaslah yang perlu dievaluasi setiap saat. Kelihaian menentukan yang mana prioritas yang mana yang dapat dibelakangkan, seakan tidak cukup sebelum kita memaknai alasan mengapa kita berhasil membuat skala prioritas tersebut.

            Mengemban jabatan struktural, menjadi ketua lembaga atau orang penting di salah satu badan, kadang menjadi pesona yang tidak terelakkan. Pesona akhirat maksudnya. Sudah terbayang di depan mata, akhwat-akhwat tadi yang jiddiyahnya sudah terbangun, dapat mendorong semangat ikhwah lain yang mulai bercucuran keringat dan air mata di persimpangan jalan. Namun, apa nyana, mereka pun hingga saat ini ternyata belum cukup diyakini untuk ada di amanah tersebut.

            Apa alasannya? Allohu a’lam. Namun, teman-teman sempat berkelakar (atau serius?) menyatakan bahwa akhwat (akhwat) tadi begitu berkualitas namun ada satu hal yang belum terpenuhi. Menikah.

            Menikah. Sebuah kata yang begitu dalam artinya, begitu panjang ungkapannya, begitu banyak waktu dibutuhkan untuk membahasnya. Beberapa ummahat pernah berkata bahwa, semilitan apapun seorang akhwat, belum teruji hingga ia menikah. Benarkah?

            Pertama kali mendengar ini saya cukup apresiatif. Yah, saya bisa memaklumi ketika seorang akhwat sudah menikah (bahkan apabila sudah memiliki anak) maka ia harus pintar membagi waktu dan perhatiannya antara ladang dakwah dan keluarga. Itu artinya, waktu-waktu yang sebelumnya dialokasikan untuk kegiatan kemasyarakatan, harus ada yang ‘hilang’ digantikan untuk keluarganya. Walaupun terkadang, ada rasa tidak rela bagi akhwat. Namun, itulah makna ketika berada di mahligai pernikahan sesungguhnya.

            Faktor lain yang bisa saya maklumi adalah faktor lebih mudahnya fitnah itu timbul. Setiap gerak badannya, lirik matanya, langkah kakinya dapat mengundang perhatian orang lain. Siapapun. Karena itu, katanya dalam mencari asisten pribadi –misalnya, dan itupun jika terpaksa harus akhwat- maka lebih ‘aman’ carinya yang sudah menikah saja.

            Namun, jangan salah, menjadi single itu tidak berarti militansinya tidak cukup teruji. Saya punya kenalan yang pernah di-sms oleh seorang ummahat yang marah-marah karena ia dituduh main mata dengan suaminya. Padahal, saat itu yang terjadi adalah sang suami itu jadi sie dokumentasi dan akhwat tadi jadi moderator dalam ta’lim yang harus difoto. Atau kisah seorang akhwat yang dalam tugas penelitian harus berinteraksi dengan bos laborat yang seorang ikhwan dengan 5 orang anak, dan setelah penelitian harus dihadapkan pada isu tidak enak mengenai ‘perpisahan’ ikhwan tadi dengan istrinya dikarenakan ada orang ketiga.

           Kedua akhwat tadi hanya bisa mengelus dada. Lagi-lagi, mereka pun hanya manusia biasa yang kadang timbul bersitan negatif di hati. Setelah pemakluman, akhirnya mereka kemudian mengklarifikasi dan bermunajat kepada Allah agar Allah mengampuni kesalahannya yang menimbulkan su’uzhon di hati-hati setiap insan yang memandang mereka.

Allahuakbar. Sebenarnya, saya lebih sepakat dengan keyakinan bahwa setiap orang memiliki cobaannya sendiri-sendiri. Dalam kondisi begini maupun begitu, ada ganjaran pahala dari Allah jika setiap musibah dan hambatan dilewati dengan ikhtiar dan keikhlasan. Bagi para akhwat yang masih sendiri, subhanallah, betapa kesempatan tabungan amalmu tak kalah banyak dibanding mereka yang berbakti pada keluarga dan suaminya. Jangan lantas bersedih dengan tekanan yang stereotip. Mari kembali jatuh cinta dengan ladang ini, kembali mentafakuri setiap kelegaan yang diberikan, meski guncangan ‘kecil’ selalu datang bertubi-tubi. Inilah nikmatnya menjadi seorang muslim, cintanya Allah selalu menguji kita untuk kemudian diketahui jawabannya, apakah kita memang layak mendapat cintaNya yang begitu besar. Ataukah kita justru mudah kecewa dengan perlakuan dan perkataan partner dakwah kita? Kemudian mudah terhempas dan terkoyak seperti daun kering di jalan aspal?

Semoga inipun menjadi catatan saya. Allohu a’lam bish showwab.

Read Full Post »

basfar4.flv

Shared via AddThis

Read Full Post »

Alhamdulillah, sore ini sudah sampai baiti-jannati dengan nyaman. Rumah orangtua ding, hehe. Tadi pagi ada kajian dalam rangka orientasi santri baru di Utsmani. Dikirain saya datang telat, alhamdulillah tadi dapat shaf pertama, jadi kesempatan konsentrasinya lebih besar.

Pengisi kajian kali ini namanya Syaikh Fahd Shofy dari Yaman bareng Ustadz Effendi Anwar. Temanya “Bersungguh2 dlm Menuntut Ilmu”. Hmm mungkin sih sudah umum, bahkan berkali2 sering kita bawakan di halaqoh. Namun, memang ilmu harus diberikan ruh, supaya nggak hanya numpang lewat. So, menurut saya, kajian kali ini bakal luar biasa nih..

Ternyata saya ngga salah. Saya share sedikit ya,

Syaikh bilang (dlm bahasa Arab, tentunya) pertama2 yang harus kita perhatikan adalah tanda syukur kita kepada Allah sebelum kita memahami urgensi ilmu dan bagaimana menuntut ilmu. Setelahnya, kita akan memahami pentingnya menuntut ilmu seperti kita memahami pentingnya makanan bagi tubuh kita.

Keutamaan ilmu diantaranya kedudukan ilmu jauh lebih besar dari berdzikir. Ilmu itu mencakup dzikir dll. Pun, ilmu bisa memberikan manfaat bagi semua orang di sekelilingnya. Ilmu juga lebih afdhol daripada ibadah. Bukankah memang ibadah tidak akan sah dan sempurna tanpa ilmu? Jangan lupa, Nabi Muhammad SAW deperintahkan “Iqro’!'” kala turunnya wahyu pertama. Ilmu juga mampu mengangkat dan meninggikan para ulama (yang berilmu) di dunia, juga meninggikan di akhirat. Dengan ilmu pun, seorang manusia mampu mengenal dan takut pada Allah SWT. Subhanalloh..

Sedangkan tujuan ilmu itu bukanlah ilmu itu sendiri. Ilmu bukan untuk dipelajari (saja). Ilmu itu untuk diamalkan. Orang yang paling takut pada Allah, pastinya orang yang berilmu. Orang pun dipisahkan derajatnya berdasarkan ilmu.

Syaikh pun teringat perkataan ulama, air itu ada 3 macam: Air yang suci namun tidak bisa mensucikan, Air suci yang mensucikan, dan Air yang tidak suci serta tidak bisa mensucikan. Perumpamaannya sama dengan manusia. Apakah kita bisa memenuhi tuntutan Islam seperti pilihan yang kedua, yang menginginkan setiap pejuangnya menjadi orang yang shalih, pembelajar dan mampu mengajarkan??

Hmm, makin kepikiran target2 belajar yang tidak semakin berkurang di tiap tahunnya. Tapi makin bertambah bak belum terselesaikan, padahal memang seyogyanya setiap hari target harus terus bertambah. Ya kan? Jadi, semangat dan bersungguh2! Allohu akbar!

Read Full Post »

Masa Muda

Tebak, saya yang mana ya? Hmmm..

Read Full Post »

Ishlah?

Jamaah ini harus mampu merangkul segala hasrat kaum Muslimin, mencakup masalah salafiyah, shufiyah, fiqih, politik, perang, harta, apapun, dalam nisbah tertentu. Mengapa? Karena itulah yang dibutuhkan umat Islam dewasa ini. Oleh karenanya, segala hal yang membawa kebaikan pada Islam, telah terhimpun dalam jamaah.

Bukankah ahli fiqih yang apabila tidak melihat kaedah fiqih dalam jamaah, maka ia akan memandang rendah pada jamaah?

Itulah, mengapa sifat menyeluruh (syumul) memang harus kita dalami ketika mencari ilmu. Ikhwah, be right on the right track. Jangan hiraukan segala iri hati, fitnah dan tipu muslihat, toh dari jaman Nabi Adam hal tersebut sudah lumrah.

Jadi, revolusi jamaah? Hmm, mulai yuk dari diri sendiri. Bismillah.

-Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Sa’id Hawwa, jazakumulloh.

Read Full Post »

DANIINGENIAPEPISALMAAZKAABIikbalnopi

 

Line 1

Dani, tuan kecil di kelas. Serba bisa, paling cepat mengerti, kadang suka tantrum.

Inge si imut, aktif, provokatif, menggemaskan. Nomor satu kalau lomba marathon dan tangkap bunglon.

Nia yang paling sering merajuk dan nemplok ke pundak saya. Hobinya teriak dan mengedip-ngedip kalau ada maunya.

Line 2

Pepi, si ceriwis yang paling mungil namun sudah jadi ketua genk di kelas.

Salma si ramah yang sensitif dan menganggap dirinya sudah 17 tahun..

Azka, ikhwan paling cool kalau pagi hari. Kalau sudah siang? Ngga jamin deh.

Hasby mungil -si penurut- yang selalu memberikan Moring-Kiss-and-Hug untuk saya

 Line 3

Ikbal, si kinestetik yang hafalannya paling bagus.

Nopi yang cantik dan begitu bersemangat dalam belajar.

Semoga kalian menjadi anak2 sholih/ah generasi Qur’ani. Semoga kalian semua benar2 jadi penyejuk hati dan mata bagi siapapun yang melihatnya. Semoga kunci2 surga di kalian bisa mengantarkan seluruh orang2 di sekitar untuk dapat menikmati sukses yang sesungguhnya. Amin, ya Robbal ‘alamin. I love you, kids.

Read Full Post »

Entah sudah berapa kali sahabat saya memanaskan telinga ini dengan hujatan2 pedasnya. Saya pun tidak bermaksud mencari pembelaan atas diri saya dan membuat seakan2 saya butuh ‘suaka’.

Semua berawal dari statement beliau yang mengatakan saya termasuk penganut Syirkul Akbar. Nau’dzubillahi min dzalik. Saya yang cuma simpatisan salah satu parpol ini dibilang musyrik. Keluar dari Islam. Masya Allah. Saya cuma bisa berdoa dan memohon ampunan Allah jika sekiranya tingkah saya maupun teman2 lain sudah menyinggungnya begitu dalam.

Dan intimidasi itupun berlanjut setelah tadi pagi, ia mengirim short message yang menyebut2 kami adalah kaum munafik karena tidak mau mengusung syari’at Islam.

Sudah syirik, masa munafik?

Ah, saya tidak mau berpolemik-ria dan menghabiskan stok kata2 baik serta etika untuk beretoris dengannya. Hanya saya ingin share, bahwa tidaklah benar jika ada penolakan syari’at Islam. Namun sekali lagi, mohon koreksi saya, khilafah Islamiyah bisa terbentuk jika banyak negara2 Islam mempunyai kesamaan visi global untuk menjalankan world order based by Islam. Sekali lagi, bukannya tidak mau bernegara Islam, bukan. Menurut saya, syarat terpenuhinya negara Islam adalah pertama harus dibibit dari individu islami. Individu muslim tadi akan membentuk rumah dan keluarga islami. Kemudian, bangsa muslim. Setelah bangsa muslim terbentuk, maka harus lahir pemerintahan Islam. Dari pemerintahan2 Islam tadi maka akan terbentuk kepemimpinan Islam tingkat dunia yang mengatur dan mengurus negara-negara Islam, menghimpun umat Islam, berjuang mengembalikan kejayaan Islam, mengembalikan tanah-tanah kaum Muslim yang telah dirampas dan negara-negara mereka yang direbut secara paksa. Kemudian mengibarkan bendera jihad dan panji dakwah Islam sehingga dunia merasakan kebahagiaan dengan ajaran-ajaran Islam. (eramuslim). Jadi, tidak bisa top-down system…

Namun, Indonesia?? Memang, mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, meski setiap dasawarsa mengalami penurunan jumlah yang signifikan, namun hey berapa sih yang memang bangga dan menjalani syari’at Islam yang benar? Lha wong persepsi Islam di setiap kita berbeda. Banyak hal kecil yang dibesar2kan. Banyak hal besar yang terlalu dibuat semakin besar. Contohnya, fatwa merokok versi Islam. Kaedah hijab dan cadar pun masih banyak yang ngga (dan sok) mengerti.

Berangkat dari situ, setahu saya, IM yang baru saya habiskan buku2nya, hadir sebagai suatu manhaj yang menekankan bahwa dakwah harus dilakukan di segala lini. Dengan cara yang baik. Dalam kasus ini, tidak ada yang bohong-membohongi, saling tipu, apalagi munafik. Na’udzubillah.. Hanya dengan hikmah wal mau-izhoh hasanah. Termasuk soal dukungan terhadap capres,

[NB: Check this taujih: “Dinul Islam tidak semata-mata diturunkan melainkan untuk kemaslahatan semesta. Apabila kemaslahatan untuk semua orang tidak dapat dicapai, maka perintah syara’ adalah agar mengupayakan kemaslahatan yang lebih besar. Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.”]

Jika memang peranan itu harus dilakukan, maka bismillah.

Sahabat, ketika banyak yang tidak begitu kita mengerti, bertanyalah. Jangan2, kredibilitas keilmuan dan keikhlasan kita yang kurang? Entahlah. Allohu a’lam.

Read Full Post »

Older Posts »